Jumat, 06 Maret 2015

Pengantar Kesehatan Mental



PENGANTAR KESEHATAN MENTAL

SUB BAB 1



Sejarah dan perkembangan Kesehatan Mental


Secara etimologis, kata “mental” berasal dari kata latin, yaitu “mens” atau “mentis” artinya roh, sukma, jiwa, atau nyawa. Di dalam bahasa Yunani, kesehatan terkandung dalam kata hygiene, yang berarti ilmu kesehatan.
Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri . Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental . Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental . Dengan kesehatan mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi baik . Di sisi ini dapat dilihat kemungkinan di kedua sisi itu kira kira 50:50 .

Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan dimana pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat antara lain :
– Akibat kekuatan supranatural
– Dirasuk oleh roh atau setan
-Dianggap kriminal karna memiliki derajad kebinatangan yang lebih besar
– Dianggap sakit


Tahun 1692 mendapatkan suatu pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, di Amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena shir atau guna-guna. Ini merupakan penjelasan yang diterima secara umum sehingga masyarakat takut dan membenci mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir.Gangguan Mental Dianggap Sebagai Sakit.


Tahun 1724 pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri.
Tahun 1812 , Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu yang menangani masalah penanganan secara mental. Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul menangani pasien sakit jiwa. Pada masa ini tumbuh penanganan dirumah sakit jiwa merupakan hal ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan.


Melawan Diskriminasi Terhadap Gangguan Mental
Dunia medis memberikan pandangan tersendiri terhadap pemahaman mengenai gangguan mental. Dunia medis memandang penderita gangguan mental sebagai betul mengalami sakit. Dunia medis melihat sakit mental sebagai berakar dari sakit ketubuhan terutama otak.
Ilmu perilaku yang semakin berkembang juga memberikan pemahaman tersendiri mengenai gangguan mental. Berdasarkan pandangan ini penderita gangguan mental dimaknai sebagai ketidakmampuan mereka untuk melakukan penyesuaian diri yang sesuai dengan realitanya.

Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll.
Zaman peradaban awal
1. Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental)
2. Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit mental)
3. Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa)
Zaman Renaissesus
Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.
 
Pendekatan Kesehatan Mental

    
Saparinah Sadli mengemukakan tiga orientasi dalam kesehatan  jiwa adalah sebagai berikut ini:

      1.      Orientasi Klasik

Orientasi Klasik ini umumnya digunakan dalam  kedokteran atau  psikiatri. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik, sedangkan sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Seseorang dianggap sehat bila ia tidak mempunyai kelakuan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan  tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau  tak sehat serta menganggu efisiensi kegiatan sehari-hari. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas.



      2.      Orientasi Penyesuain Diri

Schneiders ( 1964 : 51 ) mengemukakan bahwa individu yang memilki orientasi penyesuian diri yang baik ( well adjustment person ) adalah  mereka dengan segala keterbatasannya , kemampuannya serta kepribadiannya telah belajar untuk bereaksi terhadap diri sendiri dan lingkungannya dengan cara efisien, matang, bermanfaat, dan memuaskan.



      3.      Orientasi Pengembangan Potensi

Seseorang dianggap sehat, bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensinya menuju  kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain serta dirinya sendiri.




Apa yang dimaksud dengan kesehatan mental dan konsep sehat?


Pengertian Kesehatan Mental
Menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa:
“Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan)”.
Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Dari beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat, bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan memanfatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.
Golongan yang kurang sehat mentalnya
Golongan yang kurang sehat adalah orang yang merasa terganggu ketentraman hatinya. Adanya abnormalitas mental ini biasanya disebabkan karena ketidakmampuan individu dalam menghadapi kenyataan hidup, sehingga muncul konflik mental pada dirinya .

 Gejala-gejala umum yang kurang sehat mentalnya, yakni dapat dilihat dalam beberapa segi, antara lain:


Perasaan
Orang yang kurang sehat mentalnya akan selalu merasa gelisah karena kurang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.

Pikiran
Orang yang kurang sehat mentalnya akan mempengaruhi pikirannya, sehingga ia merasa kurang mampu melanjutkan sesutu yang telah direncanakan sebelumnya, seperti tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu pekerjan, pemalas, pelupa, apatis dan sebgainya.


Kelakuan
Pada umumnya orang yang kurang sehat mentalnya akan tampak pada kelakuan-kelakuannya yang tidak baik, seperti keras kepala, suka berdusta, mencuri, menyeleweng, menyiksa orang lain, dan segala yang bersifat negatif.
  
Dari penjelasan tersebut di atas, maka dalam hal ini tentunya pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan kepribadian secara keseluruhan. Pembinaan mental secara efektif dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Pembinaan yang dilakukan meliputi pembinaan moral, pembentukan sikap dan mental yang pada umumnya dilakukan sejak anak masih kecil. Pembinaan mental merupakan salah satu cara untuk membentuk akhlak manusia agar memiliki pribadi yang bermoral, berbudi pekerti yang luhur dan bersusila, sehingga seseorang dapat terhindar dari sifat tercela sebagai langkah penanggulangan terhadap timbulnya kenakalan remaja.

Istilah "KESEHATAN MENTAL" di ambil dari konsep mental hygiene. Kata mental di ambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan. (Notosoedirjo & Latipun,2001:21).

Zakiah Daradjat(1985:10-14) mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa pengertian :
1. Terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala - gejala penyakit jiwa(psychose).
2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.
3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan - gangguan dan penyakit jiwa.
4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh - sungguh antara fungsi - fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem - problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya.
5. Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguhsungguh
antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian
diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya, berlandaskan
keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang
bermakna dan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat

Konsep Sehat

Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit.
Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.

Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah otrang yang sehat, dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik[2], mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.

Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada.[3]
Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya. Keempat dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).

b.Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan setrusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut .

c.Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.

d.Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan. Sehaat secara social dapat dikatakan mere yang mampu berinteraksi, beradaptasi, dan berhubungan baik dengan lingkungan sekitarnya serta mampu berkerjasama dan menolong sesama. 

e.Intelektual, sehat secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan atau kemampuan berpikir dalam kategori yang baik dan mampu melihat realitas. Mereka yang memiliki nalar yang baik dalam memecahkan masalah (problem solving) atau mengambil keputusan.  


















Daftar Pustaka :

Schultz. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta : Kanisius

Sabtu, 17 Januari 2015

Sharing

 Just Sharing


Saya akan menceritakan pengalaman yang saya dapat dari kelas saya.
Jujur belum banyak pengalaman mengesankan yang saya dapat tapi ada satu pengalaman yang saya dapat saat ada beberapa teman sekelas saya mengadakan sebuah acara dengan tujuan untuk bisa saling mengenal dan bisa akrab antara sesama teman dikelas.
Walaupun yang berpartisipasi belum semuannya tetapi ada beberapa teman-teman yang bisa berpartisipasi. 
Pada saat itu yang saya ingat adalah dimana saat kita makan siang disuatu tempat yang indah dan sejuk serta jauh dari keramaian, saya dan beberapa teman saya makan siang bersama dengan bertatakan daun pisang. Disana juga kita bisa merasakan sebuah rasa kekeluargaan dan kedekatan  karena kita makan siang ditempat atau bertatakan yang sama sehingga kita bisa saling berbagi.
Saya merasakan kedekatan antara sesama tanpa sadar kita menyatu dengan suasana yang seru itu dan bisa berbagi cerita tentang pribadi masing-masing sampai berbagi cerita tentang keluarga kami.
Itulah pengalaman yang menarik dan mengesankan untuk saya dan saya berharap dilain kesempatan kita 2pa06 bisa mengadakan acara yang berkaitan dengan keakraban serta kekompakan.
Mungkin sekian cerita dari saya semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kesalahan penulisan.

Terimakasih ^^

Kamis, 08 Januari 2015

Psikoterapi menggunakan internet




Nah Bagaimana dengan psikoterapi menggunakan internet? apakah sama dengan psikoterapi pada biasanya atau berbeda. Pada dasarnya psikoterapi internet sama dengan psikoterapi manual dengan beberapa cara yang sudah ada landasan atau ketentuannya namun hanya berbeda  saja tempat atau media penggunaannya. Pada jaman sekarang teknologi semakin maju dan berkembang adanya gadget yang canggih dan dapat mengakses sebuah informasi dari berbagai tempat.
Psikoterapi menggunakan internet sudah terkenal dari tahun 2008 dan biasa disebut E-Terapi.


E-Terapi

Melihat perkembangan internet, psikoterapi tidak tertinggal. E-terapi adalah modalitas terapi baru yang bertujuan untuk membantu klien untuk menyelesaikan masalah hidup dan hubungan melalui sarana elektronik, sinkron (bersamaan) atau asinkron (waktu tertunda). Postel, Haan dan Jong (2008) berpendapat bahwa e-terapi adalah kesempatan untuk meningkatkan layanan terapi untuk orang dengan masalah mental.

E-terapi sering disebut dengan berbagai nama, yaitu:
  • Praktek online
  • E-konseling
  • Terapi berbasis web
  • Konseling berbasis web
  • Konseling e-mail
  • Terapi internet
Terapi internet itu sendiri adalah proses berinteraksi dengan terapis secara online di percakapan yang sedang berlangsung dari waktu ke waktu ketika klien dan konselor berada di lokasi yang terpisah atau terpencil dan memanfaatkan sarana elektronik untuk berkomunikasi satu sama lain.
E-terapi membantu orang mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan mereka di bawah bimbingan seorang terapis profesional.

US Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (2009) mendefinisikan e-terapi sebagai:
E-terapi adalah penggunaan teknologi media dan informasi elektronik untuk memberikan layanan bagi klien di lokasi berbeda. Hal ini digunakan oleh seseorang yang terampil dan berpengetahuan profesional (misalnya konselor dan terapis) untuk mengatasi berbagai masalah individu, keluarga dan sosial.

Yang berkaitan dengan e-terapi:
  • Mencakup berbagai layanan, termasuk skrining, penilaian, pengobatan primari, promosi setelah perawatan.
  • Memberikan pengobatan yang lebih mudah di akses dari pada yang tradisional bagi mereka yang aktif menggunakan perkembangan terbaru dari teknologi.
  • Membantu orang mengakses layanan pengobatan yang secara tradisional serta mengurangi hambatan yang berkaitan dengan geografi, rasa malu, rasa bersalah, stigma dll.
  • Diberikan sebagai modal terapi tunggal atau dalam terapi kombinasi lainnya, seperti perawatan tradisional atau yang sudah ada.

Manfaat E-terapi

Berikut adalah manfaat dari e-terapi yang disebutkan oleh Taintor (2002):
  • Melanggar batas-batas geografis sebagai ICT tidak mengenal batas atau jarak sepanjang fasilitas yang tersedia. Maksudnya dengan e-terapi dapat melakukan konsultasi dari tempat yang berbeda antara klien dan klinisi.
  • E-terapi nyaman, menawarkan kesempatan untuk melakukan terapi tanpa bepergian untuk bertemu terapis atau harus berurusan dengan penampilan seseorang.
  • E-terapi berfungsi sebagai sumber dukungan terapi yang stabil bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan.
  • Sebagai alternatif yang lebih baik bagi mereka yang sengaja menghindari layanan psikoterapi karena rasa takut atau stigma.

Situs E-terapi

Information and Communication Technology (ICT) telah diadaptasi. Sampai saat ini terdapat sejumlah situs yang menawarkan e-terapi dan innumerate. Berikut adalah beberapa situs e-terapi:
  • www.helphorizons.com
  • www.metrotherapv.com
  • www.metanoia.org
  • www.etherapv.com.au
  • www.etherapvnexus.com
  • www.e-therapist.us
  • www.psyshrink.com/etherapy.html
  • oauonlinecounsellors.org
Dengan demikian kita dapat mengetahui perbedaan antara psikoterapi menggunakan internet atau E-terapi dengan Psikoterapi manual, bahwa keduanya saling memiliki kelebihan dan kekurangannya. 
Kelebihan dari E-terapi adalah mudah diakses oleh siapapun dan mudah dijumpai diinternet dan tersedia situs free namun kekurangannya adalah masih banyak orang yg belum tahu tentang apa itu E-terapi serta kegunaannya.
Sedangkan kelebihan psikoterapi sesuai dengan keyakinan masing-masing mungkin akan merasa sedikit yakin apabila dilakukan oleh orang-orang yang sudah ahli dalam bidang tersebut serta dapat bertatap wajah dengan para terapis sehingga menimbulkan sebuah kenyamanan serta kepuasan tersendiri.
Kelemahannya ialah para pasien atau klien harus mendatangi tempat psikoterapi dan membutuhkan waktu perjalanan dalam menuju tempat tersebut.

Dan semuanya kembali pada anda masing-masing, sekian atas sharing saya semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu kita semua maaf apabila ada kesalahan kata dan kekurangan terimakasih.










Sumber :
M, Olasupo, & O, Atiri. (2013). E-Therapy:Contemporary Tool In Psychoterapy. Ife Psychologia, 21(3), 277-280.

Fundukian, Laurie & Wilson, Jeffrey. (2008). The Gale Encyclopedia of Mental Health. Psychotherapy, 2, 935-937.

C, Ovofwe. (2013). Psychotherapy: Unity in Diversity. Ife Psychologia, 21(3), 129-138.

http://chaerunnisafachriany.blogspot.com/2014/10/pinternet-psikoterapi-via-internet.html